Koleksi Action Figure Sebagai Hobi Dan Investasi

Koleksi Action Figure Sebagai Hobi Dan Investasi

Belakangan ini semakin banyak kaum muda yang gemar mengkoleksi beragam action figure atau miniatur anime juga replika mobil dan motor klasik berbagai tipe. Sebagian dari mereka menjadikan kegiatan tersebut sebagai hobi untuk dikoleksi tapi ada pula yang sekaligus bertujuan untuk jangka panjang sebuah sebuah investasi. Bagaimana sebenarnya peluang bisnis koleksi action figure sebagai hobi dan investasi?

“Kalau menurut saya sih sah-sah saja, hak masing-masing orang kan berbeda, kalau dia beli lalu buat dipendam ya apa boleh buat?” mengutip kata Eric Wirjanata, pencipta Space Wanderer kepada CNN Indonesia.

“Kalau suatu saat nilainya tinggi, ya berarti rejeki orang itu,” ucap Eric melanjutkan.

Salah satu jenis koleksi yang banyak digemari adalah Space Wanderer, yaitu jenis karakter kartun kreasi dari Eric Wirjanata. Karakter-karakter kartun yang berasal dari hobi Eric menggambar kemudian dikembangkan menjadi beragam aksesori seperti kaos maupun action figure. Berkat keunikannya, karakter yang dibuatnya berhasil menarik perhatian paa kolektor dari berbagai negara untuk memilikinya.

Menurut Eric, naiknya harga suatu karya seni di kemudian hari tergantung konstistensi pembuatnya. Semakin baik karya maka penggemarnya akan semakin banyak. Nilai action figure pun bisa meninggi bila banyak bermunculan kolektor baru yang bermaksud melengkapi koleksinya namun benda tersebut terbatas karena sudah tak diproduksi lagi.

Eric sendiri pernah mengalami hal tersebut. Karakter yang ia ciptakan di masa silam dicari-cari oleh para kolektor. Namun, ia sudah tak memproduksinya lagi lantaran membutuhkan modal yang cukup besar, karena sebab itulah, maka harganya makin melambung tinggi.

Berbeda dengan Eric, Bryan Lie pencipta kartun God Complex berpandangan action figure atau mainan yang dijadikan investasi itu keliru.

“Kalau barangnya yang dijadikan investasi suatu kali nilainya naik itu sebuah kelebihan. Namun bila dijadikan investasi utama, itu salah,” kata Bryan.

Creative Director dari penerbit Glitch ini menganggap bahwa mengoleksi sebuah karakter berupa action figure atau art toys lainnya harus didasarkan dari hati dan memiliki “koneksi” khusus terhadap barang koleksinya.

“Kalau hanya mengandalkan menjadi investasi, nanti hanya dapat kecewa di akhir. Karena tidak ada yang dapat menentukan suatu karakter nantinya akan terkenal ataukah tidak,” katanya.

“Harusnya niat mengoleksi karena keinginan untuk mendukung sang pembuat karakter, punya kecintaan akan seni ini,” lanjut Bryan lagi.

Menurut Eric, seringkali seniman tak menyangka karyanya akan terkenal di masyarakat. Sehingga sang seniman hanya menyediakan atau memproduksi dalam skala tertentu, sebagai percobaan atau karena modal yang terbatas. Konsep supply-demand berlaku untuk kasus ini.

Karya Eric pernah menjadi buruan para kolektor. Ketika masih di awal merintis karya, ia hanya membatasi sampai maksimal sepuluh unit. Namun permintaan bertambah hingga ia harus melipat gandakan mencapai 100 unit. Ketika sudah sesuai permintaan, ketenaran karyanya semakin berkibar hingga memunculkan permintaan baru atas barang tersebut. Tapi Bryan sudah tak memproduksinya lagi.

“Kebanyakan kalaupun ada sekarang di situs jual beli, dan harganya bisa mencapai 60 kali lipat harga awal,” kata Bryan. “Dahulu di awal saya jual sekitar US$100 (Rp1,4 juta) namun kemudian saya lihat di laman jual beli ternyata mencapai US$6.000 (Rp87 juta).”

Hampir sama dengan Eric, Bryan mengoleksi mainan sejak kecil. Namun ia tak ingin menghabiskan uang yang dimiliki hanya untuk hobinya. Ia pun berpikir untuk menjadikan hobi itu sebagai sumber pemasukan dengan menciptakan karakter-karakter baru. (CNN Indonesia)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.