Etika Bisnis Adalah Modal Terbesar Dalam Membangun Kepercayaan

etika bisnis

Telpon berdering di kantor dari salah satu instansi yang mengabarkan bahwa pekerjaan yang pernah kita diskusikan 3 tahun lalu akhirnya akan direalisasikan sejalan dengan lolosnya mata anggaran yang diusulkan. Segera kami merapat ke instansi tersebut untuk follow up kabar gembira itu. Singkat cerita: Pekerjaan tersebut segera dimumkan proses tendernya.

Saya yang terlibat sejak awal dalam mendesain proyek ini mendapat kesulitan fatal karena perusahaan saya belum qualified secara administrasi untuk mengikuti proses lelang dengan metode LPSE ini. Maka segeralah saya menghubungi beberapa teman untuk saya dorong mengikuti tender ini.

Perhatian saya tertuju pada salah satu pengusaha lokal untuk bisa saya ajak kerjasama dalam mengikuti proses tender ini. Bagi saya tender ini harus saya menangkan karena perusahaan sudah terlalu jauh terlibat dalam penyiapan proyek yang saat itu kami nilai cukup bergengsi, meski nilainya gak seberapa.

Akhirnya saya membuat kesepatan dengan salah satu perusahaan lokal, bahwa saya hanya berniat pinjam benderanya saja dengan sejumlah fee yang saya tawarkan. DEAL! Dia cukup duduk manis dan dapat Fee.

Kita sepakat hanya pakai gentleman agreement, tanpa ada tulisan apapun atas kesepakatan ini. Suatu cara bodoh yang tak patut dicontoh oleh siapapun.

Well seperti sudah saya perhitungkan, tender ini benar-benar kami menangkan, next tinggal masalah pelaksanaanya. Saya tidur nyenyak setelah mendapat konfirmasi dari panitia tender.

Entah ilmu/wangsit apa yang merasuki partner saya dalam tender ini, tiba-tiba dia meninggalkan saya sebagai partner dan berusaha mengerjakan sendiri proyek ini. Dia mencoba belanja komponen dan material tidak melalui saya sebagaimana bunyi kesepakatan kami.

Masalah mulai timbul ketika dia tidak mendapatkan komponen utama berupa Pompa dengan merk Lorentz. PO nya ditolak oleh Singapura. Begitu pula ketika dia mencoba kirim PO langsung ke Jerman. Keduanya ditolak dan disarankan untuk menghubungi saya.

Tidak ada opsi lain bagi dia selain mengikuti saran dan aturan dari Lorentz Gmbh, bahwa dia harus melalui saya untuk bisa membeli produk ini.

Maka akhirnya datanglah dia menemui saya. Apa yang saya lakukan terhadap orang tak beretika seperti ini? Memaafkan? TIDAK.
Sebagai designer, Saya paham betul nilai proyek ini dan prediksi keuntungannya jika dia kerjakan sendรฌri tanpa melibatkan saya. Maka saya tegaskan ke dia bahwa saya tidak bisa melayani pembelian dari dia.

Opsi yang saya tawarkan ke dia adalah :

  1. Mengambil alih (baca merampas) seluruh pekerjaan ini dan semua perhitungan keuntungannya tanpa satu sen pun saya berikan fee untuk dia.
  2. Membiarkan proyek ini tanpa supply komponen dengan resiko perusahaan dia akan di black list oleh pemerintah.

Pilihan kejam? Tergantung sudut pandang, karena dalam bisnis etika adalah segalanya. Main potong seperti yang dilakukan partner saya itu adalah kesalahan fatal yang tak ada stock maafnya.

Dia menyerah dengan memilih opsi pertama, and Done. Pekerjaan kami handle sepenuhnya tanpa potongan fee satu sen pun seperti yang dulu pernah kami sepakati. Saat dia pamit, saya masih berbaik hati membelikan tiket untuknya, bayar tagihan hotel dan sedikit oleh-oleh untuk anaknya di rumah.

Pesan moralnya adalah:
Jangan tergoda oleh keuntungan besar sesaat dengan menghalalkan semua cara. Ingat etika bisnis adalah modal terbesar dalam membangun kepercayaan.
Memang benar, pengusaha yang beretika kurang didengar etiket baiknya, tapi pengusaha nakal yang tidak beretika akan cepat terdeteksi dalam komunitas bisnis. Kenapa? karena semua pingin selamat. (September 11th 2014/Kurniadi Winarso)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.